18 April 2007 by admin
BANYAK contoh di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang akhlak khususnya akhlak Nabi Muhamad SAW. Satu diantaranya tertera sebagai berikut: ”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab:21). Terjemahan ayat tadi menunjukkan kepada setiap insan untuk senantiasa meyakini bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat pribadi mulia yang patut dicontoh atau ditauladani, sebab di dalamnya mengandung tuntunan, perilaku, dan akhlak yang melekat pada Nabi Muhammad SAW. Terutama jika seseorang tidak ingin terjebak dalam kehidupan di dunia yang penuh tipu daya, seyogyanya pribadi Rasulullah dapat dijadikan rujukan untuk meraih kehidupan abadi di akhirat nanti.
Satu diantara sekian banyak kepribadian yang dimiliki Rasulullah adalah akhlak mulia beliau dalam berbagai aspek kehidupan. Pendek kata, akhlak yang sempurna adalah akhlak Rasulullah. Berakhlak dalam lingkungan keluarga sendiri, di kalangan sahabat beliau, serta sebagai pemimpin umat. Rasul mempunyai akhlak yang tiada bandingannya, hingga musuhpun bila perlu harus dihormati.
Sebagaimana kisah Fathimah Az-Zahra sebagai putri keempat dari Muhammad Rasulullah dan ibunya, Ummahatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Rasulullah memberikan julukan kepada Fathimah dengan ‘az-zahra’ (bunga). Sungguh, Rasulullah telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau, Fathimah.
Dalam riwayat disebutkan: ”Sesungguhnya, Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku, dan barangsiapa yang mengganggunya, berarti dia mengganggu diriku” (H.R. Bukhari no 2449)
Meskipun demikian tinggi kecintaan beliau, akan tetapi Nabi menjelaskan kepada putriya, dan juga kepada yang lain agar senantiasa beramal dan berbekal taqwa. Suatu hari beliau berdiri dan berseru: ”Wahai sekalian orang Quraisy, jagalah diri kalian, sesungguhnya aku tidak dapat membantu kalian di sisi Allah sedikitpun, wahai… Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku hartaku yang kamu sukai, namun aku tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah sedikitpun”
Di dalam kehidupan suami-istri diantaranya pasti pernah mengalami rasa cemburu. Karena cemburu merupakan tanda adanya cinta, mustahil seseorang mencintai kekasihnya tidak pernah merasa cemburu. Hal itu juga dialami dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah SAW. Contohnya, Aisyah radhiyallahu anha adalah seorang wanita pencemburu, hal ini terjadi karena begitu besar rasa cintanya kepada kekasihnya yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.
Dari Aisyah, dia berkata, ”Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Akupun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata,”Wahai Rasulullah, apa tebusan atas apa yang aku lakukan ini?” Beliau menjawab, ”bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama” (Abu Daud dan An-Nasa’i)
Aisyah Radhiyallahu anha pernah berkata, ”Aku tidak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhdap Khadijah, karena Nabi Shalallahu alaihi wassalam seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau juga menyebut namanya, lalu aku berkata, ”Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadamu”. Beliau bersabda, ”Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadaku” (Diriwayatkan Bukhari)
Kisah Rasulullah yang lain dapat dijadikan sebagai pelajaran. Misalnya, kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tidak ada makanan yang siap dimakan, sambil tersenyum Rasul menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”
Suatu ketika Rasul pernah pulang pagi-pagi. Tentulah beliau amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apa pun yang bisa disantap untuk sarapan. Bahkan yang mentah pun tidak ada, karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’) Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Sebaliknya Nabi SAW sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, “Mengapa engkau memukul isterimu?” Lantas persoalan itu dijawab dengan agak gementar, “Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasihat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia.” “Aku tidak bertanya alasanmu,” jawab Nabi SAW. “Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”. Pernah Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”
Pada suatu ketika Nabi menjadi imam shalat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke rukun yang lain amat sukar sekali. Namun, mereka mendengar bunyi seolah-olah sendi tubuh nabi yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan beliau itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?” “Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.” “Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeseran di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Nabi yang kempes, kelihatan dibalitt sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergerak tubuh beliau. “Ya Rasulullah! Bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, senantiasa kami akan mendapatkannya buat tuan?” Lalu Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apa yang akan aku katakan di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”
Tak hanya itu, pintu syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk Nabi, namun beliau masih mau berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah beliau terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” Jawab belisau dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”
Akhlak yang mulia tidak hanya dapat menyatukan masyarakat tetapi juga bermanfaat dari berbagai segi kehidupan. Dari aspek keamanan, misalnya, sudah barang tentu tidak akan ada masalah apabila seluruh anggota masyarakat berakhlak mulia. Karena mereka akan saling menghormati hukum dan tahu bahwa tidak ada faedahnya membuat masalah yang sia-sia dan hanya akan mendatangkan keburukan terhadap diri mereka dan masyarakat. Dari aspek hukum, tidak perlu lagi adanya pembinaan penjara dan tempat pemulihan akhlak.
Dengan demikian, akhlak yang mulia adalah akhlak yang telah digariskan dalam Islam untuk ditauladani. Berakhlak mulia tidak hanya apa yang nampak diluar saja, tetapi yang paling penting berakhlak mulia di dalam hati dan sanubari. Kita disuruh bukan saja berbuat baik terhadap tetangga tetapi mempunyai rasa kasih dan sayang serta menghormati tetangga tersebut. Akhlak di dalam adalah akhlak yang terkait dengan hati. Sifat keji di dalam hati seperti riya, takabur, syak wasangka dan bersifat dengki harus dijauhkan agar kita dapat menjalani hidup dengan tenang dan damai. Wago
http://gp-ansor.org/?p=2395