SOEKANTO SA seorang pengarang suka miskin tapi sebenarnya kaya raya? Nampaknya kontradiktif atau pura-pura saja. Tapi sesungguhnya demikianlah adanya. Karena sosok seniman macam Soekanto SA sekalipun sebagai pengarang tapi kalau menyatakan hal-hal yang serius tidak mau main karang-karangan saja. Seperti pengakuannya sebagai seorang pengarang yang merasa beruntung karena miskin itu. Yang dikemukakannya pada saat acara bedah bukunya yang berjudul "Wahai Kekasih Allah" terbitan Pustaka Jaya, di TIM Jakarta 14 Desember 2000 yang disiarkan oleh Kompas. Bahwa kemiskinan itu merupakan keuntungan yang menjadikannya kreatif. Buktinya? Tidak lain kecuali aktivitas dan kreativitasnya sendiri yang mendapat kesaksian dari para pembaca dan juga dari teman-teman terdekatnya. Salah seorang teman terdekat yang mengenalnya sejak masa muda itu adalah juga seorang pengarang, penyair, pakar bahasa dan satra Indonesia bernama Ajip Rosidi.
Ketika dalam musim semi ini saya menerima surat-surat dari kedua seniman senior itu - yang satu datangnya dari Osaka dan yang lainnya dari London - saya jadi geleng-geleng kepala. Karena mengingat ada kesamaan tertentu pada mereka juga. Yakni sama-sama sebagai pengarang, tapi harus melakukan kegiatan lainnya. Juga sama-sama sebagai seniman yang mu’alim. Sedangkan perbedaannya yang mencolok, antara lain adalah bahwa Ajip tidak pernah mengaku "untung hidup dalam keadaan miskin agar bisa kreatif" sebagai mana halnya Soekanto SA.
Kreativitas Soekanto SA yang kelahiran Tegal tahun 1930 itu cukup signifikan. Sebagai sastrawan dia telah turut menyemarakkan kehidupan sekaligus memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia. Dengan lebih dari empat ratus karya tulisnya berupa cerpen yang tersebar di berbagai terbitan maupun yang dibukukan. Memang pada mulanya Soekanto SA dikenal sebagai cerpenis, kemudian sebagai salah seorang pengarang untuk anak-anak. Pada tahun 1951 cerpen pertamanya dimuat dalam majalah "Mimbar Indonesia" yang editor sastranya adalah HB Jassin. Selanjutnya banyak cerpen-cerpen Soekanto SA dimuat dalam "Siasat/Gelanggang" dan dalam beberapa mingguan nasional tahun 1950-an. Sedangkan kumpulan cerpennya yang pertama "Buku Merah" diterbitkan oleh Balai Pustaka (1958) dan cerpen yang kedua "Buku Harian Anakku" diterbitkan oleh Gaya Favorit Press (1981). Akan halnya kemudian Soekanto SA menjadi penulis sastra untuk anak-anak adalah berkat anjuran Sudjati SA yang pada tahun 1956 mendirikan majalah "Si Kuncung". Dia diyakinkan akan pentingnya karya tulis untuk anak-anak. Keyakinan yang dibuktikan dengan produktivitasnya yang sangat tinggi dalam kreasi, sekalipun yang diterbitkan berupa kumpulan tulisan hanya sebanyak 30 judul buku saja.
Aktivitas dan kreativitasnya yang luar biasa itu menjadikan Soekanto SA terkenal sebagai pakar di bidang penulisan karya untuk anak-anak. Dan pada itu, pada tahun 1979, dia juga memperkenalkan kembali seni mendongeng di Indonesia. Sedangkan mengenai kegiatan kerja untuk menghidupi diri dan keluarga, Soekanto SA pun menempuh jalan seperti sejumlah pengarang lainnya. Praktis, sejak 1956 dia bekerja di sejumlah media massa seperti Si Kuncung, Putera-puteri, Wanita, The Jakarta Post dan sejak 1976 sebagai editor bacaan remaja dan anak-anak dari bagian Penerbitan Buku PT Gaya Favorit Press.
Dikenal sebagai pemerhati juga aktif menulis dan mengedit bacaan untuk anak-anak, Soekanto SA sering diundang oleh berbagai lembaga untuk memberikan ceramah atau mengikuti seminar. Seperti yang diselenggarakan oleh Asian Cultural Centre UNESCO Tokyo 1978 dan Oslo 1988. Selain itu, Soekanto SA juga aktif sebagai juri pengarang novel Femina tahun 1977, 1978, 1979 dan juri tiap kali diadakan lomba cerpen oleh majalah itu sejak 1976.
Demikianlah antara lain serangkai bukti aktivitas dan kreativitas sorang seniman macam Soekanto SA. Aktivitas untuk "cari rizki", bekerja, di samping kreativitas seninya sebagai sastrawan. Karena memang semboyannya adalah "hidup dulu baru mengarang". Secara jujur diakuinya bahwa dia tak bisa hidup hanya dari mengarang.
MENGARANG bagi Soekanto SA adalah sebagai sesuatu pengorbanan, sebagai hobi yang menyenangkan tapi tak dapat memberikan materi yang berarti. Dalam kenyataan kehidupannya, jika dibandingkan dengan beberapa rekan sezaman, Soekanto SA memang tergolong "miskin" dalam hal pemilikan harta-benda atau uang. Tapi sungguh paradoksal, dalam hal kreativitas, kerohanian dan pengetahuannya ternyata memiliki kekayaan luar biasa! Betapa tidak. Dalam suatu proses menggarap tema atau untuk menyiapkan suatu buku, misalnya, dia memerlukan sejumlah bahan kajian dan atau buku-buku. Seperti untuk bukunya yang berjudul "Wahai Kekasih Allah" itu lebih dari 70 buku yang dibacanya. Hal mana hanya menunjukkan betapa keseriusan sang penulis untuk memberikan sajiannya kepada khalayak pembaca. Sekaligus betapa banyak pengetahuan yang diserapnya.
Sekalipun buku yang ditulisnya itu berupa bacaan untuk anak-anak. Namun kesan saya, memang buku yang bermakna penting dan istimewa itu bukan saja patut bagi anak-anak, tapi juga bagi pembaca segala usia. Dari anak-anak sampai kakek-kakek atau nenek-nenek! Memang benar, keadaan obyektif menuntut adanya bahan bacaan yang bermutu untuk anak-anak, bacaan yang syarat akan pendidikan yang baik, terutama sekali dalam soal akhlak. Apalagi yang harus diteladani itu memang tak lain tak bukan adalah kehidupan Nabi Muhamad SAW. Dalam kaitan ini, penulis ingin menggaris-bawahi paragraf pertama kata pengantar dari Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid yang menyatakan: "Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa pada era informasi yang sekarang melanda dunia dengan segala efeknya kita masih mendapatkan sebuah sajian informasi yang sangat menarik tentang suatu hal yang sangat menarik dan disampaikan oleh tokoh yang berpenampilan menarik" (h 11).
Dari hanya membaca buku "Wahai Kekasih Allah" itu saja, pembaca bisa mengambil manfaat bukan sekedar mutu sajiannya, juga mendapat dorongan untuk bisa lebih jauh memperkaya pengetahuan dengan upaya membaca banyak buku penting yang digunakan oleh sang pengarang. Selain buku bacaan untuk anak-anak yang bersifat kisah biografis seperti "Wahai Kekasih Allah" tersebut, Soekanto SA juga telah menyusun karya tulis lainnya. Yakni yang mengungkapkan tokoh-tokoh yang Islami seperti Mohamad Husni Thamrin Matahari Jakarta (1973), Si Pitung Hanya Sekali Kita Mati (1975) dan Jenderal Sudirman Perjalanan Bersahaja (1981).
Demikianlah secara garis besar, antara lain, aktivitas dan kreativitas Soekanto SA - jejak-langkahnya, pengalamannya yang selain berpendidikan tinggi juga bacaannya yang sangat luas. Maka dari itu, sekalipun secara kepemilikan harta-benda
tergolong "miskin" dan senang merasa demikian, namun sesungguhnya dia adalah sorang yang kaya dalam pengetahuan dan kreativitas seninya. Suatu kekayaan yang merupakan sumbangan besarnya untuk memperkaya khazanah sastra Indonesia.
Selain kekayaan yang tak ternilaikan tersebut, sesungguhnya Soekanto SA juga kaya dalam kehidupan kekeluargaan. Terbukti, dengan memperistrikan Surtiningsih WT yang juga pengarang, pasangan sastrawan-sastrawati ini telah dianugerahi 7 anak dan 20 cucu! Sungguh! Soekanto SA adalah sorang seniman yang suka miskin tapi kaya dalam menghayati kehidupan budaya serta bahagia dalam kehidupan keluarga.
Mohammad Fadly Rafsanjani