Kenapa orang zaman sekarang sangatlah malas untuk melakukan puasa? Padahal puasa memiliki banyak sekali sesuatu yang ada di belakangnya. Andaikan mereka tahu bahwa puasa memiliki sesuatu yang sangat baik bagi mereka sendiri, mungkin seluruh masyarakat mungkin di dunia akan sering melakukan puasa. Tapi sebenarnya apa saja yang bisa kita rasakan apa yang ada ”ðibalik puasa” itu sendiri?
Hikmah Berpuasa
Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan maslahat, sebagai mana telah diisyaratkan oleh nash-nash syariat itu sendiri.
Diantaranya adalah :
1) Tazkiyah An-Nafs[1] , dengan mematuhi perintah-perintaNya, menjauhi larangan-Nya, dan melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah semata, meskipun itu dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan dan membebaskan diri dari hal-hal yang telah lekat sebagai kebiasaan.
2) Bahwa puasa, disamping menyehatkan badan (sebagai mana dinyatakan oleh para dokter spesialis ) juga bisa menagangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia.
3) Terbukti bahwa puasa merupakan tarbiah bagi
iradah[2] , jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran, dan “pemberontakan” kepada hal-hal yang telah lekat mentradisi.
4) Sudah sama-sama difahami bahwa nafsu seksual adalah senjata setan yang paling ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga sejumlah aliran psikologi menganggap bahwa ia adalah penggerak utama semua pikiran. Puasa berpengaruh mematahkan gelora syahwat ini yang mengangkat tinggi-tinggi nalurinya, khususnya jika terus menerus melakukan puasa dengan ,mengharap pahala Allah SWT.
5) Di antara sekian banyak hikmah puasa adalah menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah SWT. Akrabnya nikmat bisa membuat orang kehilangan perasaan terhadap nilainya. Ia tidak mengetahui kadar kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada di tangannya. Dengan hilangnya nikmat, berbagai hal dengan mudah dibedakan.
6) Selain itu juga, puasa juga mempunyai
hikmah ijtima’iyyah[3] , khusunya puasa ramadhan. Puasa ini --dengan memaksa orang untuk lapar, sekalipun mereka bisa kenyang-- memiliki sejenis persamaan umum yang dipaksakan, menanamkan dalam diri orang-orang yang mampu agar berempati derita orang-orang fakir miskin. Atau sebagai mana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,” Ia dapat mengingatkan mereka akan kondisi laparnya orang-orang miskin”(Qhardawi,2001:26).
7) Gabungan dari semua itu, adalah bahwa puasa dapat mempersiapkan orang menuju derajat taqwa dan naik ke kedudukan orang-orang
Muttaqien[4]. Ibnul Qayyim berkata “ Puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam memelihara fisik, memelihara kekuatan batin, dan mencegah bercampur aduknya berbagai bahan makanan yang merusak kesehatan” (Qhardawi, 2001:27). Puasa memelihara kesehatan hati dan anggota tubuh, serta mengembalikan lagi hal-hal yang dirampas oleh tangan-tangan nafsu Syahwat. Ia adalah sebesar-besar pertolongan untuk membangun taqwa.
8) Dapat menerbitkan kesucian hati dan pikiran seseorang. Sedangkan dengan tidak berpuasa menimbulkan yang serupa dengan keadaan orang yang mabuk, berupa reaksi indra yang menurun, kekuatannya, menyerap pemahaman melemah, yang karena itu dapat membutakan hati.
9) Timbulnya kerendah hatian, kemurah hatian, dan pemantangan diri dari setiap hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT. Seorang yang berpuasa bisa terbebas dari efek buruk pelanggaran batas dan penyembahan keliru terhadap Allah SWT. seperti arogansi, egoisme, dan kesombongan.
10) Kesenangan beribadah karena orang yang biasa puasa akan mempunyai banyak waktu, berlawanan dengan orang yang jarang berpuasa. Orang yang berpuasa bisa terbebas dari kesibukan menata makanan lezat, dan pengobatan --yang diakibatkan terlalu banyak memakan makan yang enak tapi tidak sehat--, sehingga mempunyai banyak waktu luang dan kesempatan yang lebih tenang dan nyaman dalam melakukan ibadah.
11) Pada kemampuan seseorang secara financial, yakni dapat mengalokasikan dana financial tersebut untuk bersedekah, berziarah, menyemarakkan kebaikan, dan pelaksanaan ibadah lainnya yang menuntut biaya.
Pentingnya Berpuasa
Sebenarnya ada apa dibalik puasa sehingga sehingga puasa sangat penting untuk di lakukan?
Kegiatan rutin yang berkesinambungan cenderung menimbulkan tiga macam dampak yang serius.
Pertama, sesuatu yang berjalan Sebagai
bussines as usual[5] kadang tanapa kita sadari menjadi dinding yang masif yang menghalangi kita melihat realitas lain di luar dinding tersebut.
Kedua, kegiatan rutin setelah berjalan sekian lama cenderung menyebabkan terjadinya
psychological boring[6] yang berakibat pada stres atau depresi. Apa pun akibatnya, kebosanan jiwa bisa berdampak lebih jauh dengan membuat pengidapnya menjadi kurang kreatif dan produktif. Itu sebabnya dalam seminggu ada lima atau enam hari kerja. Dalam setahun ada hak cuti selama dua belas hari kerja. Semua itu dimaksudkan agar masing-masing pekerja mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat,
refreshing[7], traveling[8], atau relaksasi. Dengan harapan setelah libur itu berlalu para pekerja kembali bekerja dengan tingkat kreatifitas dan produktifitas yang lebih baik lagi.
Ketiga, tubuh kita memiliki dua sentra kegiatan. Perut adalah sentra yang bersifat materialistis dan biologis. Sementara sentra kegiatan yang lain adalah otak. Makan minum adalah kebutuhan rutin manusia sejak dibuaian. Seksualitas adalah kebutuhan biologis orang dewasa. Pada saat keduanya berjalan secara rutin, maka ia cenderung mengkoopatasi kebutuhan kita yang lain yang berbasis di otak.
Pertanyaannya ialah: adakah cara yang paling praktis untuk meruntuhkan tembok tembok masif yang kita bangun sendiri? Apakah refreshing yang kita lakukan di hari-hari libur benar-benar dapat mengobati kebosanan jiwa dan membuat kita lebih kreatif dan produktif? bisakah otak yang terkooptasi oleh perut dikembalikan pada struktur yang sebenarnya; yaitu bahwa otaklah yang harus menjadi panglima bagi perut?
Puasa adalah praktek langsung yang bermuara pada penghayatan untuk meruntuhkan dinding massif dan menghilangkan psychological boring, beserta turunan-turunannya.
Puasa juga berfungsi sebagai palu godam yang meruntuhkan sekat-sekat social dan sekaligus pil penawar kebosanan psikologis kita. Puasa juga berfungsi sebagai power untuk merestrukturisasi kebutuhan yang berbasis diperut dan di otak yang susunannya telah jungkir balik setelah selama ini.
Cuma kalau berhenti disini, puasa hanya akan melahirkan sosialisme, psikologisme, dan intelektualisme baru, dan akan berhenti sebagai mazhab pemikiran belaka persis sebagai mana filsafat praktis lainnya.
Puasa mengajarkan nilai yang melampaui semua itu. Puasa mengajarkan nila-nilai ilahi yang bersifat trasendental. Karena dalam perspektif islam, bukan sekularisasi yang tepat, tapi trasendentalisasi. Yaitu bagaimana cara agar setiap hal yang ada pada hidup kita tidak berhenti pada modus to have[9] tapi bergerak menuju modus to be[10].
[4] Orang-Orang Yang Bertaqwa
[5] Lazim Sebagai Mana Biasa